“Jadi Pemulung Padahal Dulu Kaya, Siapa Sia.

Soesilo Toer.
Kepri, February 2019.
Soesilo Toer setiap sore hingga sehabis magrib bahkan kadang saat dini hari memulung sampah di wilayah perkotaan Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dengan mengendarai motor butut berkeranjangnya.

Di usia senjanya yang telah memasuki 81 tahun, Soes begitu panggilan akrabnya masih bersemangat mencari rezeki memunguti barang-barang bekas yang masih bisa di jual.‎ ‎Sekilas tak ada yang istimewa dari penampilan Soes sebagai pemulung. Namun pria itu justru ramai diberitakan media setelah kisah hidupnya terungkap di dunia maya.

Tak banyak orang yang tahu bahwa pria kelahiran‎ 17 Februari 1937 ternyata merupakan adik kandung dari almarhum Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan dan penulis besar yang tak hanya diperhitungkan di Indonesia tapi juga di dunia.‎ ‎

Selain itu, banyak juga yang tak tahu bahwa ternyata Soes adalah penyandang gelar Doktor dari Rusia. Tepatnya ia menyandang gelar master jebolan University Patrice Lumumba dan doktor bidang politik dan ekonomi dari Institut Perekonomian Rakyat Plekhanov, Uni Soviet (kini Rusia). Soes juga fasih berbahasa Inggris, Rusia, Jerman, dan Belanda. Entah itu secara lisan maupun tulisan.

Perjalanan Pendidikan
Soes menempuh pendidikan dasarnya di Blora dan pendidikan menengahnya di Jakarta.‎ Setelah sang ayah, Mastoer yang berprofesi guru di Blora meninggal. Soes kemudian ikut dengan kakak sulungnya, Pramoedya Ananta Toer.‎ Sebelum hijrah ke Rusia, Soes sempat menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia‎ (UI). Sus juga mahasiswa BI jurusan ekonomi yang beralih menjadi IKIP di Jakarta Selatan.‎

Hidup yang dijalani Soes semasa kuliah sangat berat, kondisi ekonominya juga pas-pasan. Tapi setelah lulus kuliah, Soes berlimpah harta sebab diterima bekerja sebagai clerk atau pegawai asuransi di sebuah kantor dagang, bekas milik Belanda. Posisinya strategis, dengan gaji yang besar. Kehidupan perekonomian Soes meningkat‎. Makan enak & tak lagi melarat.

Ketika Soes sedang jaya, Indonesia mendadak dilanda kegoncangan ekonomi dan politik.‎ Pemerintah membentuk Batalyon Serbaguna Trikora untuk membebaskan Irian Barat. Saat itu militer memegang kuasa termasuk di kantor Soes, hingga akhirnya ia pun ikut latihan menjadi sukarelawan ke Irian Barat.

Soes mengikuti pelatihan wajib militer yang menguras fisik, jabatannya kabag distribusi dan pangkatnya letnan waktu itu. Setelah‎ Indonesia berhasil membebaskan Irian Barat. Soes lalu mendapatkan kesempatan terbang ke luar negeri setelah lolos penjaringan beasiswa. Dari sekitar 9.000 pendaftar, hanya 30 orang yang lolos, termasuk Soes. Ia berangkat dan dibiayai oleh Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan zaman Soekarno tahun 1962.

Kehidupan di Rusia & titik balik
‎Soes berada di Rusia selama total 11 tahun. Selama di Rusia, Soes bekerja apa saja, mulai dari penulis, penerjemah, peneliti dan pekerja kasar. Karena latar belakang pendidikannya, Soes berpendapatan tinggi. Dia hidup bergelimang harta di Rusia. ‎Sepekan sekali, dia bersantap di restoran berkelas di Rusia. Berpindah-pindah lokasi tergantung seleranya.‎ Saat itu, biaya hidup sehari di Rusia hanya 1 rubel sedangkan sebulan Soes mampu mengantongi 400 rubel.‎

Saat memperoleh beasiwa, Soes terikat perjanjian wajib bekerja kepada pemerintah Indonesia selama 10 tahun selepas tamat kuliah. Namun, pergolakan politik kala itu berubah setelah Orde Lama tumbang digantikan Orde Baru. Sayangnya ketika berencana pulang setelah pendidikannya rampung. Pergolakan politik membuat Soes termasuk orang yang masuk dalam daftar tahanan politik (tapol). Sehingga ketika tiba di Tanah Air, ia langsung dibawa ke penjara.
Sepulang dari Rusia pada 1973, Soes langsung dijemput petugas berwajib & masuk bui. Ia baru bebas pada 1978. Dokumen perjanjian mengabdi pada pemerintah setelah lulus kuliah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top